Teman Jum : ” Kamu lagi apa sih Jum, ko serius amat? “
Seorang anak kecil, mungkin kalo dia sekolah, umurnya sekitar kelas 4 SD, bertanya pada rekannya yang sedang duduk membaca di tepian trotoar. Temannya, yang dipanggil dengan Jum menjawab :
Jum : ” Ini lagi baca majalah. Eh, kamu tau ga, ternyata di Jepang sana kereta itu udah ga pake roda lho. Ga kaya disini, rodanya besi, trus kalo lewat suaranya berisik banget, sampe bikin kita ga bisa tidur lagi. “
Teman Jum : ” Allaaaahh..emang apa urusanmu mo kereta ada rodanya apa ga, sekarang ayo kamu kerja lagi sebelum semua kardus – kardus disana diambil sama Gonu dan gerombolannya. Mau makan apa kita nanti? “
Jum : ” Iya..iya..Eh, tapi katamu, mungkin ga sih disini keretanya diilangin rodanya? Biar ga berisik lagi, gitu..”
Teman Jum : ” Kamu tuh yang berisik!!”
Saya jadi teringat percakapan itu lagi. Sebuah ingatan masa lalu di sebuah tempat di Bogor, 3 tahun lalu. Sebuah percakapan yang waktu itu membuat hati saya miris. Miris karena ternyata anak – anak itu untuk makan saja harus bergulat bersama sampah, bersama dengan entah berapa milyar bakteri dan virus pembawa penyakit. Terpaksa tak bisa sekolah karena penghasilan mereka ternyata hanya bisa untuk menyambung hidup. Lebih miris lagi karena untuk mendapatkan pengetahuan sederhana pun, mereka peroleh dari majalah bekas yang sudah kumal dan kotor bercampur sampah. Betapa sebenarnya mereka, anak – anak kurang (saya tak ingin mengatakan tidak) mampu itu, haus akan pengetahuan sama seperti anak – anak lain yang bersekolah di gedung bertingkat, dengan ruangan ber – AC dan guru ekspatriat.
Maka alangkah mulianya cah – cah nongkrong ini yang punya ide brillian mengumpulkan 1000 buku demi tersebarnya pengetahuan hingga ke mereka yang kurang mampu. Lalu buku seperti apa yang bisa disumbangkan? Katanya sih buku apa saja. Mau novel, buku pelajaran, ensiklopedia, komik (tapi jangan hentai yaa.. hahaha..), majalah anak-anak, majalah pengetahuan, bahkan buku tulispun halal, asal masih kosong (lha ya kalo nda kosong trus buat apa??).
Bagaimana mekanisme pengumpulannya, kepada siapa dikumpulkan, dan segala tetek bengek yang perlu Anda ketahui, sumonggo saya persilakeun untuk loncat kesini.
Mari berpartisipasi demi .. Err..demi apa ya..?? Demikian, sodara -sodara….Yuk ya yuuuuuuuuu….







Terima kasih telah mempublikasikan… suka baca buku apaan mbak?
@mr.bambang
buanyak mas…antologi puisi, novel, komik, majalah…
Hehehe..u’re welcome. Ini juga untuk kepentingan mereka yang membutuhkan, too..
sampeyan tak tunjuk jadi koordinator pengumpul daerah cilacap. 200 buku targetnya ya…
ide brillian…
@bangsari
Waduh..skonyong2..Insya Allah mas.I’ll try my best..
@fisha17
Mari berbagi mas..Mari sebarkan info ini..
saya bangga pada anak2 itu, krn mrk menjaga harga diri mereka dgn bekerja dan mbkn dgn mengemis……
aku bangga pada “anak2 b-h-i”, karena mereka tlah peduli…….
dan aku menunggu mereaka (most of us) untuk ikut peduli………
ayuuuuuuuuuuuuuuu
@p.herry setyono
Benuuul..
@okta sihotang
Yuuk marii..
walopun seneng baca tapi saya termasuk fakir buku……..
arep nyumbang nduwene ebook……priwe yah?