05
Feb
08

Episode Tahapan

Sore itu sembari menunggu jam  pulang kantor, hanya tinggal kami berdua yang tersisa dalam ruangan. Tak ada sesuatu yang dikerjakan, hanya saja kami sama-sama malas untuk pulang. Maka jadilah kami hanya duduk berbincang, meski tanpa ditemani kopi, hanya secangkir teh manis hangat.

“Hidup itu sebenarnya terdiri dari 4 tahapan. Pernah dengar?”, Pak Waisman membuka perbincangan.

Saya tak menjawab. Menunggu beliau melanjutkan apa yang ingin disampaikannya pada saya.

Sambil memandangi jalanan depan kantor kami yang mulai sepi kendaraan, dia memulai penjelasannya. “Empat tahapan itu adalah bermain, belajar, bekerja dan beribadah. Sejak kamu lahir hingga umur belasan kamu lagi senang-senangnya bermain. Saat itulah masanya kamu bermain.”

Hmm…saya berpikir, masa iya sih hanya sampai belasan saja. Lha saya sampe sekarang saja masih merasa senang bermain ko. Tapi saya ga mengatakan apa-apa. Hanya mengangguk-angguk. “Lalu yang kedua apa Pak?”

Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan, dia melanjutkan, “Selanjutnya adalah tahapan dimana kamu belajar. Belajar apa saja. Ilmu dunia juga ilmu akhirat. Belajar bagaimana agar kamu mandiri dan berjuang dengan kekuatan sendiri biar jadi orang.”

Lagi-lagi saya ko merasa tidak setuju ya?Bukannya sejak lahir pun anak manusia tetap belajar? Belajar berbicara, berjalan, makan dan sebagainya itu? Tapi saya belum berkata apa-apa. Menunggu sampai Pak Waisman ini menyelesaikan ceritanya.

“Kemudian setelah belajar..”, lanjutnya “kamu itu memasuki tahapan dimana kamu harus bekerja. Biar ilmu yang kamu dapat di tahap sebelumnya itu terpakai. Berguna. Biar ga jadi ilmu yang mubazir. Disinilah kemampuanmu diuji. Kamu mampu berdiri di atas kaki sendiri atau tetap nyaman dengan dititah orang tua. Disinilah saatnya kamu mencari dunia. Harta dan tahta. Lalu yang terakhir adalah tahap beribadah. Masa dimana kamu seharusnya sudah tidak lagi mencari dan memikirkan dunia. Hanya beribadah untuk bekal di akhirat nanti. Biar kamu siap jika dimintai pertanggungjawaban sama Gusti Allah.”

Lalu beliau menoleh dan menatap saya, “Tapi semua tahapan itu ga mutlak. Artinya di tahapan bermain ya ga hanya bermain saja. Ada proses belajarnya, bekerjanya juga, mungkin. Begitu juga di tahapan-tahapan lainnya. Saat kamu bekerja, kamu tetap belajar dan beribadah. Tahapan-tahapan itu dibagi berdasarkan dominansi aktivitas yang terjadi pada masing-masing tahapan. Kamu paham kan apa yang saya maksud?”

Seperti bisa membaca pikiran saya, statemen terakhirnya mampu menjelaskan ketidaksetujuan saya sebelumnya. Hmm..jago bener Pak Waisman ini. Seperti ilusionis saja.

“Ya Pak..saya maksud ko.”

Sebelum saya sempat mengomentari penjelasannya itu, beliau sudah beranjak dari kursinya.

“Sudah sore. Langit sudah mulai gelap. Sebaiknya kita pulang saja.”

Saya menatap langit senja itu yang mulai gelap. Semburat merah terlihat di ufuk barat. Jalanan mulai sepi. Saya pun mengikutinya beranjak. “Betul juga Pak. Kita pulang saja.”

Iklan

13 Responses to “Episode Tahapan”


  1. Februari 6, 2008 pukul 7:00 am

    kui selingkuhan mu po ?

  2. 4 ika
    Februari 6, 2008 pukul 1:19 pm

    hidup itu kalo buat saya ada satu tahapan doang,,ya tak laen dan tak bukan yaa ‘hidup’ itu tadi 😀

    hehehe,,kalo menurut sayah yang namanya berjuang pun udah kita lakonin dari kecil kok,bahkan mungkin dari sejak kita dibikin kita juga udah berjuang. gak berjuang nya khan kalo udah ga didunia..

  3. Februari 6, 2008 pukul 1:37 pm

    ada 4 toh? aku kira cuma 3 tahap.. koleksi, seleksi dan resepsi 🙂

  4. Februari 6, 2008 pukul 3:46 pm

    @ mikow : 4, tambah satu lagi : reproduksi

  5. Februari 7, 2008 pukul 7:59 pm

    ada 1 tambahan lagi, tapi kalo bsa sih jangan sampe : cerei

  6. Februari 7, 2008 pukul 10:22 pm

    sing jelas urip mung sepisan…..

  7. Februari 8, 2008 pukul 1:36 am

    kalo udah gelap, nyalakan lampu…ini kok malah pulang 😛

  8. Februari 8, 2008 pukul 3:13 pm

    adiet-nya niez :::
    Yuuuukk…

    balibul :::
    Selingkuh sama bapak-bapak? Perlu mikir beribu-ribu kali to ya…

    Pitik :::
    Mari pulang..marilah pulang..bersama sama..wekekekek…

    ika :::
    Setuju non…Hidup adalah perjuangan!

    mikow :::
    Versi mas mikow begitu toh???

    Luthfi :::
    Ck..ck..ck..ndang rabi konoh…

    Pacul :::
    Ya jelas dong kang…

    Hedi :::
    Hikikikikikik… ;))

  9. Februari 9, 2008 pukul 8:59 am

    kok gak ditemani kopi sih. dagangan saya ndak laku nih.. 😆

  10. 12 noviandy
    Februari 15, 2008 pukul 8:57 pm

    Pak Waisman so Wise……..

  11. Februari 16, 2008 pukul 1:25 pm

    tukangkopi :::
    lha ya warungnya situ keburu tutup sii…salah sapa tutup kecepetan.wekekekek…

    noviandy :::
    karenaitulah diberi nama begitu mas….hehehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Episode Maruria

Yang Saya Dukung

Coin A Chance

Gerakan 1000 Buku

Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html

My Facebook

Marlia Suminar's Facebook profile

My Mofuse

My Community


Photobucket

Be My Friend

Add to Technorati Favorites

Maru's Flickr

Visitorz

  • 12,157 pengunjung

%d blogger menyukai ini: