31
Jul
08

Episode Nongkrong Bareng Petinggi

Coffe and Tea Mug

Senin siang ( 28 Juli 2008 ) lalu saya “nongkrong” bareng anggota DPRD Kabupaten. Sambil nge-teh (bukan ngopi) dan tanpa rokok, saya maksudnya, kalo beliau-beliau itu sih merokok, kami bertukar pikiran tentang salah satu masalah klasik yang dihadapi petani di lapangan, yaitu : KELANGKAAN PUPUK. Iya, ketersediaan pupuk selalu menjadi masalah dalam proses budidaya. Jika tidak tepat waktu, maka hasil produksi tidak akan optimum. Sama seperti jika Anda sedang lapar, tapi tak ada makanan yang bisa dimakan, maka yang terjadi adalah lemas, kinerja Anda menjadi tidak maksimal karena tak ada energi dan pikiran menjadi tidak fokus karena tidak ada nutrisi baru yang terkirim ke otak. Sama halnya dengan tanaman, proses pertumbuhannya terhambat, sehingga hasil produksinya rendah.

Alasan yang menjadi penyebab pupuk langka di pasaran antara lain : ( 1 ) Kebiasaan petani yang belum mau mentaati SOP ( Standar Operating Procedure ) dalam penggunaan pupuk. Dengan kata lain, belum tepat dosis. Mereka cenderung menggunakan pupuk berlebihan. ( 2 ) Terjadi hambatan dalam proses distribusi disebabkan kurangnya jumlah distributor atau jalur transportasi yang sulit. ( 3 ) Terdapat oknum pejabat atau pengusaha yang menimbun pupuk sehingga ketika dibutuhkan, pupuk sulit didapat (heuuhh..selalu saja ada oknum dimana – mana..). Mungkin sebenarnya masih banyak alasan lainnya, namun yang mencuat dari hasil diskusi itu hanya tiga.

So..gimana solusinya? Sebenernya masalah ini sangat kompleks, jadi membutuhkan kerjasama yang sinergis dari berbagai pihak dan membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menyelesaikannya. Bukan hanya Dinas Perdagangan saja, tapi juga Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Pemerintah Daerah, produsen pupuk, distributor, pengecer bahkan petani itu sendiri. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain :

1. RDKK *) harus valid agar pupuk tersalur tepat kepada orang yang membutuhkan.

2. Sehubungan dengan no. 1 diatas, maka PPL **) sebagai laskar terdepan penghubung pemerintah dengan petani harus mampu mengontrolnya. Selain itu harus mampu menyajikan data dengan benar mengenai luas hamparan sehingga quota pupuk tiap daerah sesuai dengan kebutuhan.

3. Produsen mampu meningkatkan produksinya, sehingga sebesar apapun kebutuhan petani, pupuk akan selalu tersedia.

4. Meningkatkan peran kontak tani ***) dalam penyediaan pupuk. ( Belum tau juga sih, peran seperti apa yang harus dimainkan.. 😀 )

5. Menggunakan pupuk organik sebagai pupuk alternatif. ( Kalo solusi ini sih bukan merupakan hasil diskusi, tapi tambahan dari penulis sendiri, hehehehe…). Selain harganya jauh lebih murah, bahannya banyak tersedia di alam, sehingga tak perlu takut terjadi kelangkaan, mampu mengembalikan kesuburan tanah serta mampu menghasilkan produk pangan yang minim zat kimia beracun.

6. JUJUR dan AMANAH terhadap tugas dan kewajiban masing-masing, sehingga tidak akan terjadi penyimpangan, penimbunan atau permainan harga pupuk.

Pertanian adalah sektor vital dalam pertumbuhan suatu negara. Petani harus tetap menanam jika kita tidak ingin mengalami krisis pangan. Bayangkan jika petani tak ada yang mau menanam lagi. Takada lagi bahan makanan yang bisa diolah dan dimakan. Bisa saja kita import dari luar negeri, tapi tentu saja harganya jauh lebih mahal dan belum tentu aman. Jadi kawan, mari kita terus perjuangkan nasib petani agar tercapai swasembada pangan dan meningkatnya kesejahteraan petani..!!

Keterangan :

*) Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok. Sebuah matrik yang memuat daftar kebutuhan sarana produksi (jumlah benih, pupuk, obat-obatan) yang disesuaikan dengan luas lahan garapan petani yang tergabung di dalam kelompok tani. RDKK dibuat setiap awal musim tanam.

**) Penyuluh Pertanian Lapangan. Pegawai negeri sipil yang bertugas melakukan kegiatan penyuluhan pertanian.

***) Petani / Ketua Kelompok Tani yang berprestasi.

Iklan

8 Responses to “Episode Nongkrong Bareng Petinggi”


  1. Juli 31, 2008 pukul 9:23 pm

    wah..seru juga bahasan dalam nongkrong barengnya, kelangkaan pupuk memang selalu menjadi masalah bagi petani kita yang selalu dipinggirkan oleh kebijakan pemerintah yang cenderung berorientasi pada pasar bebas tanpa terlebih dahulu memperbaiki kelembagaan, termasuk kelembagaan di tingkat petani sehingga maslaah pupuk seperti ini seharusnya tidak berlarut-larut

  2. Agustus 1, 2008 pukul 6:33 am

    Kalo aku cenderung make organik. Tapi kadang petani ‘kuno’ kadang masih ada rasa takut dan pesimis untuk makenya. Jadi susah deh sosialisasinya.

  3. Agustus 1, 2008 pukul 1:14 pm

    @fajrin
    Bener banget!Kebijakan pemerintah emang belum memihak petani,terutama petani kecil.Masih bussiness oriented sih..
    @fisha17
    Ngajak petaninya emang mesti pelan2,ga bisa drastis.Di daerahku aj yg pake organik mungkin baru 20%.

  4. Agustus 1, 2008 pukul 7:56 pm

    wah … ipebe sekali
    hohoohohooh 😀

  5. Agustus 2, 2008 pukul 1:07 am

    menurutku solusi plg tepat yaitu menggalakkan penggunaan pupuk organik dan meningkatkan kesadaran ttg SOP penggunaan pupuk.

    bukankah seharusnya petani melakukan siklus tanam?, yaitu menanam tanaman yg berbeda utk tiap musim tanam, sehingga zat2 yg terkandung dlm tanah, yg dibutuhin tanaman, tetap terjaga keseimbangnnya. Shg scr tdk langsung kebutuhan akan pupuk dpt dikurangi. (klo dak salah, gitu deh pelajaran yg ku dpt waktu SD dulu, hehe…)

  6. 6 wku
    Agustus 2, 2008 pukul 1:45 pm

    Pupuk dicinta ulam pun tiba… saya sering heran kok para pengusaha pupuk itu pasti kaya raya… barokah enggak ya? jadi curiga…

  7. Agustus 3, 2008 pukul 9:55 am

    @luthfie
    Ini namanya mengamalkan ilmu phie,hehe..
    @herry setyono
    Idealnya sih begitu..Tapi sulit.Itulah kenapa penting skali mensosialisasikan pertanian organik.Let’s go back to nature..!!
    @wku
    Wah..kalo soal barokah or ga-nya,cuma Tuhan yg tau,he2..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Episode Maruria

Yang Saya Dukung

Coin A Chance

Gerakan 1000 Buku

Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html

My Facebook

Marlia Suminar's Facebook profile

My Mofuse

My Community


Photobucket

Be My Friend

Add to Technorati Favorites

Maru's Flickr

Visitorz

  • 12,225 pengunjung

%d blogger menyukai ini: