Archive for the 'Career' Category

17
Mar
09

Episode Trip To My New Workplace

Mburuh di pabrik baru menuntut saya untuk lebih keras berjuang dan berusaha menyesuaikan diri. Topografi wilayah yang bergelombang, jalan tanpa aspal yang dikelilingi kebun sawit serta rawa yang bertebaran merupakan tantangan tersendiri bagi saya ketika menuju pabrik. Karena bigboss belum kembali dari dinas luarnya, terpaksa pagi ini, untuk kali pertama, saya sendirian pergi ke pabrik menaiki kuda besi tercinta. Untungnya sebelum bigboss berangkat, saya sempat minta untuk dibuatkan peta menuju kesana, jadi saya tak perlu mencari sendiri, tak perlu sering-sering bertanya pada orang dan tak perlu nyasar, kikikikikik.. *grin*

Jadiiii…dengan ditemani si peta, saya pun memulai perjalanan (ko jadi berasa kayak Dora yaks??!). Di awal perjalanan, saya harus menembus kurang lebih 5-6 km kebun sawit yang rapat dan sunyi. Sesekali berpapasan atau disalip juga siih..sama truk pengangkut buah sawit atau kuda-kuda besi lainnya. Tapi itu pun intervalnya mungkin ga kurang dari 15 menit sekali. Sisanya ya..sepiiiii banget! Saya sempet juga ketemu sama uler warnanya ijo, kurus dan panjang lewat di tengah jalan dan hampir saja terlindas oleh kuda saya. Sayang ga sempet saya ambil gambarnya. Habis itu, saya harus melewati jembatan kayu selebar 3 m dan sepanjang kurang lebih 100 m yang berdiri diatas rawa. Itu jembatan cuma cukup untuk satu kendaraan aja, jadi kalo ada yang lagi nyebrang dari sisi seberang, terpaksa kita harus nunggu dia untuk sampai di sisi kita, baru kita bisa lewat. Meskipun cukup kuat untuk dilewati mobil dan truk kecil, tapi tetap saja berderik keras waktu saya lewat diatasnya dan cukup membuat saya tegang.

Jembatan 1

Jembatan sepanjang 100 m. Ini hanya terlihat separuhnya saja, di balik tanjakan masih berlanjut jembatannya.

Sukses melewati jembatan kayu, saya dihadapkan lagi dengan kebun sawit hingga akhirnya saya masuk ke pemukiman. Tapi ini belum selesai, untuk sampai di pabrik, saya masih harus melewati satu jembatan kayu lagi dengan lebar sama namun kali ini lebih pendek, mungkin hanya sekitar 50 meter-an. Yang ini pun sama berderiknya. And..tadaaaaa…sampailah saya ke pabrik. Fyuuhh…finally.

Lega? Iya laahh.. But wait, saya kan harus melewati rute itu lagi buat pulang yak?? OMG!! Hhhh.. smoga saja saya bisa terbiasa.

Iklan
31
Jul
08

Episode Nongkrong Bareng Petinggi

Coffe and Tea Mug

Senin siang ( 28 Juli 2008 ) lalu saya “nongkrong” bareng anggota DPRD Kabupaten. Sambil nge-teh (bukan ngopi) dan tanpa rokok, saya maksudnya, kalo beliau-beliau itu sih merokok, kami bertukar pikiran tentang salah satu masalah klasik yang dihadapi petani di lapangan, yaitu : KELANGKAAN PUPUK. Iya, ketersediaan pupuk selalu menjadi masalah dalam proses budidaya. Jika tidak tepat waktu, maka hasil produksi tidak akan optimum. Sama seperti jika Anda sedang lapar, tapi tak ada makanan yang bisa dimakan, maka yang terjadi adalah lemas, kinerja Anda menjadi tidak maksimal karena tak ada energi dan pikiran menjadi tidak fokus karena tidak ada nutrisi baru yang terkirim ke otak. Sama halnya dengan tanaman, proses pertumbuhannya terhambat, sehingga hasil produksinya rendah.

Alasan yang menjadi penyebab pupuk langka di pasaran antara lain : ( 1 ) Kebiasaan petani yang belum mau mentaati SOP ( Standar Operating Procedure ) dalam penggunaan pupuk. Dengan kata lain, belum tepat dosis. Mereka cenderung menggunakan pupuk berlebihan. ( 2 ) Terjadi hambatan dalam proses distribusi disebabkan kurangnya jumlah distributor atau jalur transportasi yang sulit. ( 3 ) Terdapat oknum pejabat atau pengusaha yang menimbun pupuk sehingga ketika dibutuhkan, pupuk sulit didapat (heuuhh..selalu saja ada oknum dimana – mana..). Mungkin sebenarnya masih banyak alasan lainnya, namun yang mencuat dari hasil diskusi itu hanya tiga.

So..gimana solusinya? Sebenarnya masalah ini…

29
Feb
08

Episode Dunia (Yang Tak Terlalu ) Baru

Menyelami dunia baru (yang sesungguhnya pun tak begitu baru) di depan mataku ini ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan, pun tak seringan mengucapkan kata-kata umpatan. Meski telah dibekali bertumpuk-tumpuk literatur dan berribu-ribu memori yang berjejalan dalam lilitan alur otakku yang sempit, namun semua teori itu impoten, seketika kehilangan kegagahannya ketika tiba saatnya untuk bertempur. Aku pun tergagap. Merasa kerdil dan tumpul. Ternyata apa yang kuketahui selama ini, segala hipotesis dan teori yang kuumbar dan gembor-gemborkan seketika loyo dan kalah oleh kesederhanaan tutur dan tindak mereka, sang jawara pengalaman. Merekalah sesungguhnya guru. Merekalah sesungguhnya literatur itu. Lalu…

05
Jan
08

Episode Tiga Kata

Kata-kata itu sederhana, tapi efek yang diberikan luar biasa. Kehadirannya mampu menimbulkan kehangatan, kebahagiaan, kebanggaan dan terjalinnya hubungan baru. Namun kealpaannya mampu meluluhlantakkan hubungan yang telah terjalin, menimbulkan amarah dan (terkadang) dendam. Kata itu adalah Tolong, Maaf dan Terima Kasih.

Ingin membuktikannya? Perhatikan percakapan antara Bos dengan Ajudannya ini :

Jadi gini lho..

17
Des
07

Episode Sirik

“Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.”

Begitulah mereka. Awalnya saya ndak mau menilai orang. Ga seorangpun dari kita berhak menilai orang lain, itu yang saya percayai. Tapi kasus yang satu ini nampaknya memaksa saya untuk menempelkan tag tersebut di jidatnya dan di bokongnya. Iya, semacam stempel penanda, begitu. Biar orang lain waspada terhadap orang-orang seperti itu.

Ketika ada seseorang menaiki tangga karir atau kejatuhan untung, orang berstempel itu kemudian merasa susah dan berbisik-bisik di belakang (bahkan di depan juga), ngomporin dan ngipasin banyak orang bahwa tangga yang baru saja ditanjaki adalah karena kepandaiannya menjilat. Padahal menjilat itu kan pake lidah, sedangkan naik tangga jelas pake kaki. Trus dimana korelasinya?

“Ngapain sih kamu jadi Anu, enakan jadi Inu. Kalo jadi Anu tuh ya harus siap-siap kerja rodi, harus mau dipaksa korupsi, harus mau blah..blah..blah…” Situ kali yang sebenernya pengen jadi Anu tapi ga mampu.

Ah..sudahlah ngapain juga saya pusing mikirin makhluk berstempel itu. Anjing menggonggong kafilah berlalu.

“Jadi makhluk berstempel itu, anjing to mbak?”

Tauk ah..!!

28
Jun
07

Episode Tusukan : Part 2

Akhirnya saya ketemu lagi sama si Boss yang menusuk saya. Ya, sebenernya saya tuh ga sekantor sama Evil Boss ini, karena saya ditempatkan di kantor cabang. Kami bertemu lagi karena ada rapat koordinasi. Dulu, setelah dia menusuk saya, dia bersikap like nothing happened. So saya juga bingung harus menghadapi dia bagaimana. Mungkin sebenernya kalo dia bersikap nyuekin saya atau mendiskreditkan saya secara terang-terangan, saya pasti akan mengkonfrontir dia langsung. Biar rame..!!! Biar panas..!!! Huahahahaha..saya seneng kalo bisa menjatuhkan dia di depan forum…!!! Waduh..ternyata saya sama jahatnya sama Boss saya itu ya..???

Oke, balik ke moment pertemuan kami. Saat kami bertemu, ternyata dia still the same. Dengan senyum lebar di wajah dia menyalami saya dan melontarkan guyonan-guyonan yang di telinga saya tak lagi terdengar lucu. Tak lagi seperti dulu. Tapi saya masih berusaha berbaik hati dengan menanggapi guyonannya dan tersenyum palsu. “Huh..dasar musang berbulu domba..!!”, batin saya.

Sebenernya disinilah inti ceritanya. Seusai rapat, banyak rekan-rekan kerja saya yang mendekati saya dan bercerita tentang kelakuan si kucing garong..Oops..itu syair lagu ya? Maksudnya kelakuan si Boss sama mereka di kantor. Ternyata banyak dari mereka yang sudah menyadari sifat aslinya. Mereka membuktikan sendiri kejadian dulu, sebenarnya siapa yang berbohong. Mereka bilang kalo si Boss sering menunda pembayaran gaji sampai berminggu-minggu, sering membatalkan agenda tanpa sebab yang jelas, sehingga terpaksa mereka yang kelimpungan menelpon para undangan dan mengarang alasan kenapa agenda dibatalkan. Sering juga mencari-cari kesalahan staf, kemudian marah-marah hanya karena event yang dia selenggarakan tidak sukses.

Bahkan sifatnya yang bermuka dua ini telah membawa “korban”. Yup, staf keuangan kantor terpaksa menyerah dan mengundurkan diri karena selain tempat tinggalnya jauh dari kantor dan dia capek kalo harus dilaju, ternyata ada faktor X yang menjadi alasan utamanya. Sayangnya para komisaris tak mau mengatakan kepada kami apa sebenarnya faktor X itu.

Yaaahhh…at least kebenaran sudah terungkap. Nama saya sudah kembali bersih. Kami hanya tak mengerti, kenapa sih dia masih dipertahankan sama para komisaris?? Apa juga karena faktor X? Atau faktor Y? Atau faktor Z? We’ll never know….

07
Mar
07

Episode Kegagalan

Pada malam 5 Maret 2007, ibunda saya mendapat telpon dari abang ipar saya. Dia mengabarkan tentang hasil pengumuman De****n. Wah..ternyata saya termasuk orang-orang yang ga LOLOS. Hehehehe…berakhir sudah drama perjuangan saya.


Yah..ternyata memang belum rejeki. Pasti ada hikmahnya lah..Misalnya, meskipun ndak lolos disana, tapi saya mendapatkan promosi di lembaga pendidikan tempat saya mengajar dan jadi karyawan disana. Bukan hanya sebagai tentor honorer. Nah..jadi seiring dengan itu, jam kerja saya bertambah dan tentu saja penghasilan bertambah juga, hehehehe…Jadi saya ndak kecewa kecewa amat gitu lhooo….

Memang Tuhan itu Maha Adil yaa….




Episode Maruria

Yang Saya Dukung

Coin A Chance

Gerakan 1000 Buku

Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html

My Facebook

Marlia Suminar's Facebook profile

My Mofuse

My Community


Photobucket

Be My Friend

Add to Technorati Favorites

Maru's Flickr

Visitorz

  • 12,225 pengunjung